Thailand merupakan salah satu negara konsumen kopi yang besar, karena minum kopi sudah menjadi tradisi bagi penduduknya. Sebagai bentuk upaya untuk mewujudkan program Kementerian Pertanian khususnya Gerakan Tiga Kali Ekspor (GRATIEKS), maka awal Maret lalu, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mendukung melalui pameran.

Support kali ini dalam Pameran lingkup internasional, yaitu Thailand Coffee, Tea & Drink ke-14 yang telah dilaksanakan pada 27 Februari-1 Maret 2020 di lokasi strategis dan bonafit di Thailand khusus untuk kegiatan pameran, yaitu Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC).

Pameran dengan level internasional ini dilaksanakan tiap tahun di Thailand, dan sudah diadakan selama 13 tahun berturut-turut dengan sukses. Pameran dikhususkan pada komoditas yang banyak diminati pasar Thailand yaitu kopi, teh dan aneka minuman (food grade).

Pada pameran tersebut turut dihadiri oleh Wakil Dubes RI untuk Thailand, Atase Perdagangan Bangkok dan para staf/fungsi ekonomi KBRI Bangkok, Thailand, dan dimeriahkan dengan para pelaku usaha perkebunan asal Indonesia.

Pelaku usaha yang mengikuti antara lain PT Sarinah Mega Perkasa dari Makasar, Sulawesi Selatan (produk berupa Kopi), PT Sahabat Mitra Strategis dari Jakarta (produk berupa kopi, Stevia), PT Bejana Kasih Sempurna dari Jakarta (produk berupa Kopi Mamasa/La Mamasa), PT Kommit Sejehtera dari Kab. Gianyar, Bali (produk berupa Syrup Herbal Extract), dan CV Tanjung dari Kab. Purworejo, Jawa Tengah (produk berupa teh).

Melalui event Thailand Coffee, Tea & Drink ke-14 ini, merupakan peluang besar yang positif bagi pelaku usaha perkebunan dan mampu menemukan banyak buyer potensial dari berbagai negara. Pada pameran tersebut, produk kopi Indonesia berhasil menarik perhatian negara lain, khususnya kopi dari PT Bejana Kasih Sempurna mendapatkan respons positif dari beberapa negara.

“Potensi permintaan kopi La Mamasa baik arabika maupun robusta diminati 11 negara yaitu Thailand, Korea Selatan, New Zealand, Kamboja, Swiss, Jerman, Vietnam, Amerika Serikat, Singapura, China dan Myanmar,” kata Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan.

Kasdi menambahkan, Sekitar 70 persen buyer potensial berasal dari Thailand dan banyak meminati kopi La Mamasa jenis robusta khususnya untuk memasok kebutuhan kedai kopi/café kopi di Thailand yang mulai menjamur di kalangan anak muda.

Berdasarkan data primary research, yang dilakukan langsung melalui business matching dengan banyak stakeholder mengenai kebutuhan supply kopi masing-masing buyer, diketahui bahwa, potensi kesepakatan dari kopi La Mamasa adalah senilai Rp 819,22 miliar yang terdiri dari kopi arabika senilai Rp 390,1 miliar sedangkan kopi robusta senilai Rp 429,1 miliar.

“Kini peluang pemenuhan pasar kopi dunia semakin terbuka lebar, bisa di supply dari kopi Indonesia sehingga harus segera memastikan ketersediaan stok kopi secara kontinue,” katanya.

Beberapa buyer, Lanjutnya, sangat concern dalam mewujudkan produk yang sustainability dan standar kualitas yang tinggi.

“Untuk itu dibutuhkan support dari pemerintah terkait kelancaran proses mendapatkan dokumen komoditas dan ekspor, pengawalan/pendampingan, perluasan lahan dan peremajaan tanaman (bantuan pembibitan, sertifikasi dan standarisasi) serta sarana dan prasarana. Perlu kerjasama dan komitmen yang kuat baik pemerintah, pelaku usaha perkebunan, pekebun maupun pihak terkait lainnya dalam mengembangkan perkebunan Indonesia, khususnya pemenuhan stok kopi untuk pasar dunia ke depannya,” kata Kasdi. (*)

 

Sumber : nasional.tempo.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *